Jadwal Kebaktian Minggu

  • 07.30 WIB Kebaktian Umum I
  • 07.30 WIB Kebaktian Umum II (Mandarin - Indonesia)
  • 10.00 WIB Kebaktian Umum III
  • 07.30 WIB Kebaktian Sekolah Minggu I
  • 10.00 WIB Kebaktian Sekolah Minggu II
  • 10.00 WIB Kebaktian Remaja
  • 17.00 WIB Kebaktian Pemuda

Artikel

Tangan Terancung

Sat, 04 November 2017

Bacaan : Yesaya 9:7-10:4

Tangan terancung merupakan gambaran kemarahan Allah. Kata "tangan teracung" itu diulang sebanyak empat kali (Yes. 8:11, 16, 20, 9:4). Penyebutan berulang ini menunjukkan bahwa Allah memang sangat marah dengan apa yang dilakukan umat-Nya. Kemarahan Allah terfokus pada ketidakadilan dan ketidakbenaran yang dilakukan pemimpin Israel (Yes. 9:1-2). Perbuatan mereka membuat Allah menyebut mereka penyesat (15).

Bagaimana manusia menggambarkan Allah? Dengan bahasa antropomofisme (manusia berusaha menggambarkan Allah). Tangan teracung menunjukkan gambaran kemarahan manusia yang mengangkat tangannya yang terkepal. Hal itu biasa terjadi kalau kesalahan yang dilakukan orang lain sudah di luar batas kewajaran. Begitulah ungkapan tentang kemarahan Allah kepada umat-Nya. Allah marah karena dosa umat sudah pada fase kronis dalam setiap sendi kehidupan, dimulai dari para pemimpin agama dan politik dan merambah sampai kehidupan bermasyarakat. Karena itu, Allah hendak mengerat para pemimpin agama dan politik (13-14). Seharusnya perilaku dan kehidupan mereka menjadi panutan bagi umat Allah, yang menuntun mereka kepada kehendak Allah. Pada kenyataannya, mereka menyimpang dari kebenaran dan keadilan Allah. Mereka menjadi pemimpin yang sombong dan merasa diri hebat karena mampu melakukan segalanya dengan kekuatan sendiri. Karena itu, Allah tidak menoleransi sikap arogansi pemimpin semacam itu.

Allah sering kali disebut Allah yang Mahapengampun. Sebutan itu tidak salah, namun tidak berarti bahwa Allah tidak bisa marah. Allah hanya marah kalau umat-Nya terus-menerus hidup dalam kubangan dosa dan menolak melakukan pertobatan. Dalam hal ini, siapakah yang paling dirugikan? Sudah dipastikan bahwa bukan hanya diri kita, tetapi juga generasi anak cucu kita ikut serta menanggung akibat dari dosa yang dilakukan oleh leluhur mereka. Untuk itulah, kita perlu mawas diri dan menjaga hidup suci agar tidak memancing kemarahan Allah. [ASP]

Baca Gali Alkitab 1

Yesaya 8:1-22

Dengan kondisi bangsa yang sedang dalam keadaan krisis, Yesaya memotivasi Raja Ahas untuk beriman kepada Allah, yang sudah menyatakan jaminan pemeliharaan-Nya. Yesaya mencela Ahas atas kegagalannya mengimani Allah. Lalu Yesaya menubuatkan bencana besar yang akan terjadi atas Yehuda.

Apa saja yang Anda baca?
1. Apa yang diperintah Allah kepada Yesaya untuk dilakukan (1-4)?
2. Apa yang dinubuatkan Tuhan terhadap bangsa Israel (5-9)?
3. Karena Ahas sulit untuk percaya kepada Tuhan, Tuhan memberi tawaran kepada Ahas. Apa isi tawaran-Nya? (10-11)
4. Bagaimana respons Ahas atas tawaran Tuhan tersebut? (12)
5. Tanda apa yang kemudian Tuhan berikan kepada Ahas? (13-16)
6. Gambaran apakah yang dipakai Yesaya untuk menunjukkan tindakan yang akan dilakukan Asyur atas Yehuda? (17-25) Bencana seperti apa yang dapat kita baca dari gambaran ini?

Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?
1. Dari tantangan yang Allah berikan kepada Ahas untuk meminta tanda, apa yang dapat Anda pelajari?
2. Menurut Anda, apa alasan penolakan Ahas?
3. Apakah ada hubungan antara penolakan Ahas dengan nubuat mengenai bencana yang akan terjadi kemudian atas Yehuda?

Apa respons Anda?
1. Pernahkah Anda mengalami bahwa mengikuti solusi yang bukan dari Allah bagi masalah Anda ternyata membuat masalah tersebut jadi semakin buruk?

Pokok Doa:
Bersyukur bahwa kita mengalami pendisiplinan dari Tuhan karena semuanya itu untuk kemajuan kerohanian kita.

Oleh : Sabda

Artikel Lainnya: